Sampah Yang Jadi Petaka

4 04 2008

SAMPAH YANG JADI PETAKA

Di suatu perkampungan tinggallah sebuah keluarga sederhana. Seorang ibu dan 3 orang puteranya. Seorang ibu yang sehari-harinya berjualan nasi kuning, gorengan dan lain-lain. Awal mulanya hanya berjualan di depan rumahnya. Namun karena perubahan yang ada sehingga ibu tersebut berpikir untuk memberanikan diri berjualan keliling. Dengan tekadnya yang bulat Si Ibu tersebut akhirnya berjualan keliling.

Di keluarga tersebut juga tinggal 3 orang anak laki-laki yang juga membantu ekonomi Si Ibu. Walaupun hidup berkekurangan namun 3 orang anak tersebut semuanya mengenyam pendidikan sekolah. Anak ketiga masih kelas 6 SD,yang kedua menempuh pendidikan di salah satu kampus pendidikan di Surabaya. Sedangkan yang ketiga sedang menuntut ilmu di salah satu kampus teknik ternama di Surabaya.

Suatu ketika ada kejadian yang tidak diduga oleh keluarga tersebut. Kebetulan juga si anak pertama ada di rumah saat itu. Biasanya si anak jarang pulang kalau siang hari karena masih berada di kampusnya. Setelah selesai kuliah dia mengajar anak SMA dan SD(read :les privat). Biasanya pulang ke rumah malam hari sekitar jam 9 –an. Entah kenapa saat itu berada dirumah.

Tiba-tiba ada orang memanggil dari luar rumah, ”Bu, mau beli nasi kuningnya.”kata si pembeli.”O iya tunggu bentar,”kata si Ibu. Saat si Ibu melayani si pembeli, ada suara yang tidak enak didengar dari sebelah rumahnya. “Kalau sudah selesai menyiapkan daganganmu sampahnya dibersihkan. Kalau nggak mau bersihkan ya pindah aja jangan tinggal disini.”kata orang tersebut sambil membentak si Ibu. Kemudian si ibu menyahut,”Ya ntar kalau sempat. Aku kan kerja sendirian. Nggak ada yang bantu. Anak-anakku kalau siang sekolah semua.”kata si Ibu. Orang tersebut lebih keras lagi menjawabnya,” Ya menyewa pembantu saja.”Si anak pertama yang berada di dalam rumah nggak tega mendengar ibunya yang dimaki-maki. Akhirnya dia keluar untuk menyudahi percekcokan tersebut. Namun orang tersebut terus mlontarkan kata-kata yang nggak enak didengar dan dirasa menghina keluarga tersebut. Si anak yang mencoba untuk sabar nggak bisa menahan lagi. Akhirnya sang anakpun membalas ucapan orang tersebut dengan lantang dan keras.” Weh…anda jangan sombong…”.Orang tersebut malah tambah marah dan berkata,” Siapa kamu masih kecil-kecil udah berani,ambilkan clurit.”Sang anakpun tidak gentar samasekali dengan celotehan orang tersebut.

Kemudian si anak pergi ke belakang mengambil sapu lidi untuk membersihkan sampah yang berserakan di depan rumahnya. Biasanya setelah selesai menyiapkan masakan dagangannya,memang keadaan depan rumahnya banyak sampah yang masih berserakan. Nah inilah yang menyebabkan sema itu. Nah diluar itu semua,sambil menyapu dan membersihkan sampah.Si anak dalam hatinya bersumpah,”Aku harus jadi orang sukses biar ibuku dan keluargaku tidak direndahkan oleh orang lain. Aku bersumpah kalau sudah sukses dan aku butuh pembantu,akan kujadikan orang tersebut pembantu. Kalau bukan dia setidaknya dari keturunannya.”

Karya : Pedanglaut

15.23 pm,04 April 2008

Lab.Mekanika&Mesin2Fluida

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: