Fathimah Zahra, simbol keagungan wanita

22 04 2008

Bismillah… Assalamualaikum

Tiga bulan berlalu. Kesedihan dan duka kepergian Rasul, telah merampas keceriaan putri kesayangan beliau, Fathimah AS. Peristiwa yang terjadi sepeninggal Rasul, menambah luka hati Fathimah. Sungguh, betapa tragisnya peristiwa yang harus disaksikan oleh satu-satunya putri dan pewaris Nabi ini. Hanya janji Rasulullah yang menjadikan pelipur lara Fathimah. Beliau SAW pernah bersabda, “Putriku, engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang pergi menyusulku.” Fathimah terbaring di pembaringan menunggu saat-saat akhir perpisahan dengan dunia fana ini. Waktu berjalan sedemikian lamban. Bukankah dia adalah Fathimah yang setiap pagi dan sore rumahnya selalu didatangi oleh Rasulullah SAW sebelum pergi ke masjid dengan mengucapkan salam sejahtera atasnya? Assalamu alaikum ya ahla baitin nubuwwah, seraya membacakan ayat `Innama yuridullahu luyudzhiba ankumur rijsa ahlal bait wa yuthahhirukum tathhira`. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan noda dan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.”

Ali, suami Fathimah dan anak-anaknya duduk di atas pembaringan putri Rasul itu. Usia pendek Fathimah namun sarat dengan kebesaran dan keagungan itu berlau dengan cepat. Ali memandang istrinya dan teringat akan sabda Nabi SAW, “Wahai Ali, Fathimah adalah buah hatiku. Demi Allah, Fathimah tidak pernah menyakiti hatiku dan tidak pernah melanggar perintahku. Setiap kali aku memandangnya, seluruh duka dan kesedihan hatiku akan lenyap seketika.”

Ali teringat tahun kelima hijrah ketika Fathimah dilahirkan. Betapa suka citanya Rasulullah saat itu. Ayah seorang nabi dan ibu yang mulia seperti Sayyidah Khadijah Kubra membentuk kepribadian agung pada diri Fathimah. Setelah Khadijah wafat, dialah yang menggantikan peran sang ibu sebagai pelipur lara dan derita ayahnya, Rasulullah SAW. Peran dan tugas itu dilaksanakan dengan baik sehingga Rasulullah SAW memberinya gelar Ummu Abiha atau ibu bagi sang ayah. Dengan menatap Fathimah AS, segala beban dan derita yang dipikul Rasulullah SAW terasa ringan. Fathimah selalu tersenyum ketika mendatangi sang ayah. Dan sebaliknya, meski memiliki derajat yang sangat agung di sisi Allah, Nabi dan kekasih Allah ini sering mencium tangan putri kesayangannya itu.

Ali sekali lagi teringat peristiwa di Mekah, saat kaum kafir melempari Nabi dengan batu sehingga melukai kaki beliau. Menyaksikan kekurangajaran bangsa Quresy terhadap ayahnya, Fathimah, yang saat itu masih kecil, berlari ke arah Rasul. Dengan menahan luka hati yang sangat dalam, Fathimah menghibur dan merawat luka Nabi. Namun saat itu, satu pelajaran penting dia dapatkan, yaitu, bahwa menanggung derita dan musibah di jalan Allah adalah hal yang indah dan manis. Hal itulah yang menyempurnakan jiwa seorang mukmin sejati.

Suasana hening yang memutar kembali kenangan-kenangan manis dan pahit dalam kehidupan Fathimah AS, membuat Ali semakin tenggelam dalam kesedihan. Tak terasa butir-butir bening air mata Ali menetes membasahi wajah sang istri yang terbaring lemas di pembaringan. Mata Fathimah yang sayu terbuka dan memandang sekelilingnya. Fathiumah melihat anak-anaknya yang kemarin asyik bermain di atas punggung Rasul SAW kini tampak sedih dan tak bergairah. Sedangkan Ali, merasakan kesedihan dan kepiluan yang dalam. Hatinya bergejolak dan bertanya-tanya, mengapa istrinya yang masih sangat belia harus menangung segala derita ini? Bukankah Nabi SAW telah menyebutkan bahwa Fathimah adalah penghulu seluruh kaum wanita? Bukankah permintaan Nabi kepada umat sebagai balasan dakwah ilahiyyah hanyalah kecintaan umat kepada keluarganya?

“Katakanlah, aku tidak mengharapkan upah apapun atas dakwah ini kecuali kecintaan kalian kepada keluargaku.”

Bukankah Nabi SAW tidak mempunyai anak selain Fathimah yang diusia 18 tahun meninggalkan dunia ini dengan menanggung segala derita?

Ali memegang tangan Fathimah. Sentuhan itu memberikan semangat baru pada jiwa Ali. Dia teringat betapa Fathimah selalu menjadi pendamping dan penolong yang baik dan setia baginya. Kata-kata Fathimah kembali terngiang di benak Ali. “Wahai Ali, aku akan selalu menyertaimu di saat suka dan duka.” Mengingat itu, tubuh Ali menggigil. Sebab, sepeninggal Nabi, Fathimah tampil sebagai pembela Ali yang paling setia dan ikut merasakan derita yang dirasakannya.

Meski wanita, fathimah Zahra AS sangat tanggap terhadap berbagai masalah dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya, khususnya setelah Rasulullah SAW wafat. Beliau tampil bagai singa menghadapi kebatilan di arena pergolakan sosial saat itu. Dalam sebuah pidatonya yang terkenal, penghulu wanita dunia ini menyadarkan masyarakat akan penyimpangan yang sedang terjadi. Untuk itu beliau telah siap untuk menanggung segala derita dan akibatnya. Fathimah mengenal semua orang munafik dan musyrik dan membongkar segala fakta dengan jelas.

Mengingat kasih sayang dan perjuangan Fathimah yang murni semakin membuat Ali tenggelam dalam kesedihan. Ali mengalihkan pandangan kepada anak-anaknya. Hasan dan Husein AS tampak sedih melihat keadaan sang ibu. Ali teringat saat kedua anaknya sakit. Dia dan istrinya bernazar untuk berpuasa selama tiga hari demi kesembuhan mereka. Hari pertama, menjelang buka puasa, seorang fakir miskin mendatangi rumah mereka dan meminta sedekah makanan. Tanpa berpikir panjang, Fathimah memberikan makanan buka puasa kepada sang fakir. Hari kedua, menjelang buka puasa, kembali suara ketukan terdengar di balik pintu rumah mereka. Kali ini, seorang anak yatim datang meminta makanan. Makanan buka untuk hari kedua itu diserahkan oleh Fathimah kepadanya. Kejadian serupa terulang lagi di hari ketiga, namun saat itu seorang tawanan perang yang datang. Seperti dua hari sebelumnya kali inipun, penghulu wanita dunia itu membungkus makanan dan menyerahkannya kepada sang tawanan. Tiga hari berturut-turut, keluarga suci Nabi itu hanya berbuka dengan air. Apa yang mereka lakukan hanya demi keridhaan Allah, sebab mereka tidak ingin mengecewakan orang yang datang meminta pertolongan kepada mereka. Nabi SAW yang mengetahui hal itu, merasa prihatin akan keadaan mereka. Jibril turun dan menyampaikan, “Wahai Muhammad, selamat atasmu yang memiliki keluarga seperti ini.” Jibril lantas membacakan surah Al-Insan kepada Nabi SAW.

Ali terbayang kesempurnaan dan budi pekerti mulia sang istri. Dalam hati dia berkata, meski singkat, namun kehidupan Fathimah sarat dengan pelajaran. Ali bersyukur, karena kehidupannya dengan Fathimah diwarnai dengan cinta dan kasih sayang. Detik-detik akhir kehidupan Fathimah AS terasa berat bagi Ali. Ali merasa bahwa dia harus kehilangan wanita paling mulia di atas muka bumi yang kehidupannya dihiasai dengan keimanan, ilmu, kesederhanaan dan kesabaran. Dia kehilangan wanita yang tidak tergoda sama sekali oleh dunia dan gemerlapnya. Bahkan di malam pengantin, Fathimah memberikan baju barunya kepada seorang wanita yang membutuhkan. Sedangkan dia sendiri memilih untuk memakai pakaian lama dan sederhana saat diiring ke rumah Ali. Ali meratapi nasibnya yang harus berpisah dengan istri yang berpengetahuan luas. Dialah yang waktunya banyak dihabiskan untuk menjawab persoalan yang diajukan oleh masyarakat. Ali sadar bahwa duka perpisahan dengan putri Nabi itu akan selalu dideritanya hingga akhir hayat. Sebab selama itu, Fathimah tidak ada lagi di sisinya.

Mengingat kenangan-kenangan itu, membuat Ali tak mampu lagi menahan deran air matanya. Perlahan Ali berbisik di telingan Fathimah. “Istriku, keberadaanmu adalah pelipur laraku. Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik wanita umat Muhammad.” Fathimah membuka matanya dan dengan suara lirih yang nyaris teerdengar berkata, “Salam sejahtera atas Jibril! Salam sejahtera atas Rasulullah! Ya Allah, berilah aku tempat di surga bersama nabi dan utusan-Mu.”

Fathimah berkata lagi, “Lihatlah, para malaikat dalam kemari bersama ayahku Rasulullah. Beliau bersabda kepadaku, “Fathimah putriku, cepatlah kemari! Songsonglah ajal yang menjemputmu yang mengantarkanmu ke tempat yang baik.” Salam untuk janjimu wahai ayah, dan salam untuk senyuman yang menawan.”

Fathimah putri dan buah hati Nabi SAW pergi meninggalkan dunia yang menderanya dengan berbagai duka. Fathimah AS kini telah bebas dari himpitan kefanaan dan pergi menghadapTuhannya. Kepergian putri Nabi itu meluluhkan Ali AS, jawara Islam. Dengan suara bergetar, Ali berkata, “Tak ada kebaikan di dunia ini setelah kepergianmu, wahai Fathimah. Aku menangis karena mencemaskan harus menjalani kehidupan yang panjang setelah kepergianmu.”

Diedit dari

Radio Melayu suara RII

Iklan

Aksi

Information

2 responses

27 04 2008
abi

alhamdllH ,,,,tilisan yang secara khusuS menerangakan tentang shohabiyah pada zaman nabi telah hadir, meskipun ini bukan yang pertama kali….
smoga karakteristik watak fatimah azzahro menempel dalm kepribadian kaum haWa indonesia……

28 04 2008
pedanglaut

Syukron Akhi comment-nya…
Mudah2an aja kaum karakter kaum hawa di Indonesia spt Fatimah Azzahro….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: