Sungkan Bisa Membawa Kemurtadan

22 04 2008

Sholat shubuh telah usai. Jama’ah diam sejenak sambil berdzikir kepada dzat yang Maha Berkehendak. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang maju ke depan menghadap ke arah jama’ah. Ya…itulah Ustadz Mufidz, yang sudah siap dengan materi yang akan disampaikan kepada jama’ah masjid di kampusku. Setiap hari sabtu ba’da sholat shubuh memang ada kajian rutin dengan materi kajian Al-Qur’an. Pagi tadi mengkaji surat An-Nisaa’.

Surat An-Nisaa’ merupakan salah satu dari 114 surat dalam Al-Qur’an. Kalo’ kita artikan memang artinya adalah wanita. Namun dalam surat tersebut juga banyak berisi tentang sikap kita kepada kaum kuffar. Di samping ada pemaparan tentang masalah wanita. Sungguh lengkap Al-Qur’an menjelaskan tentang hidup ini. Ibaratnya ketika kita ujian yang memerlukan jawaban. Permasalahan hidup itu merupakan ujian dan Al-Qur’an merupakan jawabannya. Subhanallah sungguh indah ber-islam.

Ketika kajian sudah dimulai seperti biasa suasana pagi yang masih terbawa rasa kantuk yang belum selesai. Lihat samping kiri kanan, jama’ah ada yang tertidur dan tidak sedikit pula yang memperhatikan kajian shubuh yang disampaikan Ust.Mufidz. Kajian pun terus berlangsung hingga sampailah sesi tanya jawab.

Ada hal menarik yang disampaikan oleh Ustad Mufidz. Ketika beliau berada sedang menunggu mengajar di kantornya, beliau bersama dengan seorang guru agama Kristen yang sedang menunggu jam pelajaran pula. Beliau diajak bermain catur oleh guru tersebut. Nah…disinilah ada perbincangan menarik. ”Pak Mufidz, setiap hari raya Idul Fitri saya selalu memberi ucapan selamat hari raya Idul Fitri kepada bapak. Tapi kenapa setiap hari raya Natal, Bapak tidak pernah memberikan ucapan selamat Natal pada saya.”tanya seorang guru kristen tersebut. Dengan tegas Pak Mufidz menjawab,”Kalo’ bapak mengajak saya makan soto saya mau apa lagi dibelikan tapi kalo’ memberi ucapan selamat Natal kepada Bapak, saya tidak mau karena agama saya melarang demikian”. ”Kalo’ setiap orang muslim bersikap komitmen seperti itu bagus sekali.”guru tersebut menanggapi.

Sikap tegas terhadap orang kafir sangat perlu dilakukan. Bukan berarti Islam itu keras. Dalam hal akidah perlu sikap berani. Terkadang kita sungkan kepada teman kita yang non-muslim sehingga karena sungkan tersebut akhirnya kita memberi ucapan selamat kepada mereka ketika ada perayaan hari besar mereka. Ucapan selamat dari mulut kita bisa membuat goncangan yang sangat kuat pada aqidah kita. Hal itulah yang diinginkan oleh non-muslim.

Toleransi itu ada batasnya.

Sungkan itu ada tempatnya.

Berkata tegas di waktu yang tepat itu sangatlah penting.

22 April ’08, 23.55 p.m

Lab. Mekanika dan Mesin2 Fluida

Teknik Mesin ITSSurabaya

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: