Ikhlas…mungkin solusinya…

2 11 2009

Bingung memulai tulisan ini, ntah darimana kuharus menguntai kata-kata. Manusia, ya kita adalah manusia yg Alloh ciptakan dengan kelengkapan yang paling sempurna daripada mkhluk yang lain. Akal dan rasa(hati) itulah kelengkapan yang paling menonjol pada diri manusia. Ada yang unik yang Alloh buat beda dari yang lain yaitu perasaan kasih dan sayang atau sering kita sebut dengan CINTA.

Cinta, ternyata harus dimanage sedemikian hingga sehingga tidak jatuh pada tempat yang tidak semestinya. Terkadang kita membiarkan perasaan kita melanglang buana mencari tempat yang tepat. Untuk siapa rasa ini berlabuh. Ketika Cinta itu berlabuh ditempat  yang tidak halal maka akan berbuah kesedihan. Sang pemilik Cinta tidak berkenan dan bahkan mencela jika CINTA itu adalah cinta yang salah.

Ketika perasaan itu kita khususkan untuk seorang yang belum halal bagi kita maka bersiap-siaplah untuk kehilangan karena Sang pemilik cinta belum ridho. Sekuat apa pun keinginan kita, jika Alloh tidak berkenan semuanya akan lewat begitu saja. Sedih memang, tapi itulah kehendak-Nya. Manusia hanyalah hamba yang hanya bisa berencana dengan indahnya namun Dia-lah yang Maha Menentukan. Begitu mudahnya Dia membalik keadaan, paginya senang dan siangnya pun Dia membuat kita sedih. Rencana itu sudah diatur begitu apik, namun kembali lagi Sang Pemilik Cinta tidak berkenan.

Ikhlas, ya harus ikhlas…itulah mungkin solusi yang tepat. Ikhlas melepasnya untuk yang lain. Alloh punya rencana yang indah untuk mengakhiri episode ini. Benar sekali apa yang ada dalam Al-Qur’an : “…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Alloh Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.(QS. Al-Baqoroh 216)

 

 

Menemani dinginnya malam

Bontang, Kalimantan Timur





Begitu Indahnya Jadi Pengajar : Pengalaman I

31 10 2009

Pengalaman mengajar kurang lebih 7 thn membuat saya tertarik dan merasa nyaman dengan profesi tersebut. Aku menjadi guru privat sejak SMA kelas 2. Saat itu saya mengajar anak SMP kelas 3. Dalam benak saya, ini adalah sebuah tanggung jawab yg cukup besar. Tuntutan orang tua murid pun cukup tinggi. Anaknya harus masuk SMA Negeri. Dengan mengambil langkah berani, aku mencoba ambil peluang itu.

Saat itu saya berfikir, pergi ngajar naik apa ya???kebetulan saat itu belum ada kendaraan pribadi. Uang saku dari ortu pun hanya cukup untuk PP ke sekolah. Alamat rumah tempat ngajar ke rumah saya harus ditempuh dengan naik bemo(lyn/angkot) 2 kali, lumayan jauh emang. Tapi dengan keinginan yg sangat kuat untuk hidup mandiri tetap saja aku ambil peluang itu. Hari-hari pun berlanjut, sampai akhirnya bayaran pertama pun aku terima. Sungguh bangganya meneri hasil keringat sendiri walaupun tidak seberapa. Namun hati ini tetap puas. Saat itu aku terima uang Rp 15.000,-. Uang itu pun terpotong ongkos angkot PP menjadi Rp 7.500,- . Bukan uang orientasiku saat itu tapi pengalaman berharga menjadi seorang guru privat yg aku inginkan, mendapatkan uang hasil jeri payahku sendiri yg menjadi kebanggaan.

Dengan menjadi privat tentunya mengurangi jatah waktu luangku. Apalagi saat itu juga aktif di Organisasi Sekolah, secara otomatis waktu belajar pun akan berkurang. Mananjemen waktu pun terus kulatih, walaupun tidak mudah. Sedangkan tuntutan orangtua angkat juga harus tetap jadi peringkat kelas. Mau nggak mau emang harus ada yang dikorbankan…jatah bermain lah yg harus dikurangi secara otamatis. Lah terus kapan belajarnya?

Inilah pertanyaan yang terkadang membuat kita tidak mau mengambil resiko. Namun Alhamdulillaah dimanapun bisa digunakan sebagai tempat belajar. Ketika berangakt ngelesi(ngajar), aku selalu membawa buku pelajaran sekolah. Jadi bisa dibuka dan dibaca ketika naik bemo, daripada bengong, lumayan perjalanan sekitar 1,5 jam ke tempat ngajar. Nah kalo’ ditotal kan ada waktu 3 jam di jalan. Aku pikir cukup untuk belajar, walaupun dilihatin orang…hehehe…Biasanya sih kita malu,  ntar dikirain sok rajin..tapi ya cuek aja..demi kemandirian dan masa depan cemerlang…hehehe…Selain itu, waktu belajar pun bisa dilakukan di dalam kelas, ketika ada teman yang nanya tentang soal-soal, disitupun secara tidak langsung aku juga belajar.

Intinya tidak ada yang sulit ketika kita mau mencoba dan ada tekad kuat untuk hidup mandiri. Bukannya sudah jelas dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

Menemani dini hari bersujud pada-Nya

Bontang, Kalimantan Timur





Masih Ada Amanah Langit

29 10 2009


Pilihan pun telah kupilih, meninggalkan keinginan melanjutkan study S2 untuk sementara waktu atau bahkan tidak untuk selamanya..wallohu a’laam…Keinginan menjadi pengajar di salah satu perguruan tinggi ternama pun harus kulupakan sementara waktu. Setelah dosen pembimbing TA mengatakan untuk menjadi dosen butuh S2 terlebih dahulu. Selain itu juga aku harus memikirkan kelanjutan pendidikan kedua adikku yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ya ada hikmah dibalik ini semua. Ada rencana langit yang belum saya ketahui sebelumnya.

Setelah mengikuti dan mencoba mencari beasiswa S2 akhirnya pun juga sama kembali pada biaya yang tidak sedikit yang saat itu tidak ada sama sekali. Meminta pada ortu tidak mungkin dilakukan, karena tidak saatnya meminta namun seharusnya aku yang harus memberi.  Pikiran pun bergejolak saat itu antara 2 pilihan yang tidak mudah yaitu memenuhi ambisi pribadi atau mengenyampinkan kepentingan pribadi demi berlangsungnya pendidikan adik-adik dan kehidupan ortu. Ya bisa dibilang aku bukan lah berasal dari golongan berada. Akhirnya aku pun juga mencoba melamar pekerjaan. Ada sekitar 7 lamaran yang aku masukkan.

Proses seleksi pun terus berlanjut sampai akhirnya aku pun keterima di salah satu perusahaan swasta di luar jawa. Perantauan pun terpaksa dilakukan untuk niatan hidup yang lebih baik. Mungkin ini lah yang bisa kupersembahkan untuk keluargaku dan adik-adikku serta orang tua angkatku. Inilah jalan yang telah ALLOH berikan untukku, merantau ke pulau seberang, Pulau Borneo. Ada kata-kata yang membuatku berani meninggalkan tanah kelahiranku, Surabaya kota perjuangan, yang penuh dengan kenangan dan perjuangan untuk bertahan hidup, yaitu : “ Dimanapun kita bekerja adalah sama saja, mau di jawa atau pun luar jawa, sama-sama bumi ALLOH. Asalkan diniatkan untuk beribadah kepada-Nya maka tidak akan terasa berat.”

Ya itulah pesan ibu angkatku. Masih ada amanah langit yang harus aku tuntaskan. Mengenyampingkan keinginan pribadi. Begitulah kehidupan memberikan banyak pelajaran.

“….Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. ..” {QS. Luqman (31) : 34}


Menemani bisingnya bermalam di pabrik

Bontang, Kalimantan Timur





SIS…kau selalu kunanti…

29 04 2009

SIS kau selalu kunanti…

pencarianmu tiada akhir…

kucari engkau kemana-mana…

namun sampai saat ini belum jua kutemukan..

SISterkadang akupun berkaca dan bertanya-tanya…

apakah aku pantas mendapatkanmu….

namun diri ini tak kan pernah putus asa tuk mengejarmu…

setiap saat kuperbaiki diri ini demi mendapatkanmu…

SISdirimu hampir selalu terlintas di benakku…

sulit sekali diri ini melupakanmu…

kau pun juga hadir dalam mimpiku…

kau pun selalu terbayang dalam benakku…

andaikata aku bisa mendapatkanmu….

Aku percaya pada kemampuanku dan kehendak-Nya…

InsyaALLOH suatu saat akupun bisa mendapatkanmu…tuk mengejar impian…

entah kapan…wallaahu a’alam…

diri ini hanya bisa berusaha dan berdo’a…

Oh…beaSISwa S2…

menemani kegalauan hati

penulis





Menunggu Sebuah Kepastian…???

21 04 2009

Saat kelulusan udah dicapai…tes-tes kerja pun udah dilaluli…dari 7 kali tes kerja hanya 1 tes yg sampai tahap medical check up…entah lolos atau nggak…wallaahu a’alam… Ya beginilah penantian menunggu ketentuan yang Maha Pemberi Rizki…yang menentukan atas segala sesuatu dan manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a…masalah hasil seperti apa nantinya…ya semuanya diserahkan kepada-Nya…Sungguh pelajaran hidup yang sangat berarti…harus bisa menerima apapun yang telah dikehendaki-Nya… InsyaALLOH Dia tahu akan kemampuan hamba-NYa…dimana mereka harus ditempatkan nantinya…amanah apa yang mampu diemban oleh hamba-Nya…pekerjaan apa nantinya yang kita peroleh…Dia-lah yang menentukan.. Semoga diberikan yang barokah…

Wallaahu a’lam…





Anda Dinyatakan LULUS…!

19 11 2008
img_04073Tanggal 17 nop tepatnya jam 13.00 WIB merupakan hari yang paling menegangkan. Kenapa?
Saat itulah penentuan sidangku lulus atau tidak. Setelah bimbang, dredeg, dan rasa cemas serta grogi memenuhi detak jantungku. Akhirnya tepat jam 13.30 datanglah satu persatu dosen penguji dan dosen pembimbing yaitu Wawan Aries W, ST, MT(meh doktor), Dr. Ing. Herman Sasongko(Ketua Jurusan Teknik Mesin ITS), Prof. Ir. Sutardi, M.EngSc, Phd dan Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA(dosen pembimbing TA-ku).
Kemudian mereka masuk ruangan dan duduk di tempat yang telah disediakan. Rasa dredeg-pun semakin memuncak. Nggak tau kenep[a terasa beban sekali. Kebetulan aku jg mantan koordinator lab. yang sudah sering berkomikasi ndengan mereka. Sehingga aku merasa sungkan dan malu jika nantinya ditanya pertanyaan mendasar tidak bisa menjawab. Apalagi disaksikan oleh temen-temen dan adik-adik mantan praktikan-ku.
Presentasipun berjalan…penjelasan yang aku sampaikan terpatah-patah karena perasaan grogi yang memuncak…setelah selesai presentasi kemudian sesi tanya jawab….di awal pertanyaan aja aku udah salah menjawab…ternyata pertnanyaannya g ada yang bab2 dasar tapi semuanya  bab 4 tentang analisa. Semuanya diluar dugaan. Mungkin mereka udah tau bahwa aku seorang asisten dan apalagi mantan koordinator lab. Makanya pertanyaan g mungkin dasar tapi lebi advance.
Perasaan takut dan grogi menutup semua ilmu yang telah saya pelajari. Seakan-akan hilang semua. Apa yang udah ada di otak sulit untuk di jelaskan dengan kata2…malahan g sesuai apa yang sudah terpikir dan yang tersampaikan dari mulut…inilah performa terburuk…didepan sempat terlintas dalam benak saya...”Ya…ALLAH kenapa seperti ini…”aku terdiam didepan papan tulis…lalu ada suara muncul,” Ayo dijawab…digambar…jangan grogi…santai aja…”,kata dosen pembimbingku. Aku jawab pertanyaan dengan gambar. ternyata benar gambarku namun saat disuruh menjelaskan. Seakan-akan sulit dikeluarkan pemikiran yang ada dalam benakku.
Pertanyaan-pertanyaan silih berganti dari dosen penguji. Ada yang kejawab dan banyak pula yang tak tersampaikan dengan baik karena rasa grogi yang terlalu besar. Waktupun terus berjalan. Akhirnya tepat jam 15.00 sidangku selesai. Kemudian diganti berikutnya temenku yang yang maju. Kebetulan 2 orang yang saat itu maju sidang TA. Setelah selesai akupun keluar untuk sholat ashar dulu. Selesai sholat aku-pun berdo’a dan termenung. “Ya…ALLAH kenapa seperti ini…berikanlah hamba yang terbaik….jika emang nggak lulus berarti itulah mungkina yang terbaik….kupasrahkan semaunya pada-Mu”. Kemudian aku kembali lagi keruangan.
Akhirnya temanku selesai juga tepat jam 16.10 WIB. Semua peserta sidang diperkenankan keluar ruangan tak terkecuali aku. Para dosen berkoordinasi dulu untuk menentukan kelulusan kami. Selang beberapa menit kami dipanggil oleh dosen penguji untuk masuk ruangan.Ku ambil kursi dan berusaha duduk dengan tenang. Aku udah pasrah apapun hasilnya itulah yang terbaik. Sebelum diumumkan para dosen memberi petuah2  dan kritik serta saran pada kami. Akhirnya saat yang menegangkan tiba. Dosen pembimbingku mengatakan,” Kalau masih didunia pendidikan salah itu sebuah kewajaran, namun jika dunia kerja anda melakukan kesalahan maka berakibat fatal. Kami berempat sepakat bahwa Anda berdua dinyatakan LULUS. “…..ALAHAMDULILLAH…BAROKALLAAHU….ALLAAHU AKBAR….AMANAH BESAR TELAH MENANTI….

 

menemani malam yang sunyi
Lab.Mekanika dan mesin-mesin Fluida